Pusat Layanan Penyandang Berkebutuhan Khusus (PLPBK), Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LPPP), Universitas Negeri Malang, mengadakan lokakarya bertajuk “Optimalisasi Teknologi Asistif untuk Dosen dan Tenaga Kependidikan” pada hari Selasa, 21 Januari 2025. Bertempat di Aula Gedung B17 Lantai 2, kegiatan ini berlangsung dari pukul 10.00 hingga 14.00 WIB dengan dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan dari berbagai fakultas.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dosen serta tenaga kependidikan dalam mendukung Mahasiswa Berkebutuhan Khusus (MBK) melalui penerapan teknologi asistif. Lokakarya ini menjadi respons konkret terhadap kebutuhan layanan pendidikan inklusif yang semakin mendesak di lingkungan perguruan tinggi.
Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua PLPBK Universitas Negeri Malang yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas fakultas dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang inklusif. “Dukungan terhadap MBK bukan hanya tanggung jawab satu unit, tetapi merupakan tanggung jawab bersama untuk memastikan aksesibilitas pendidikan yang setara bagi semua,” ujarnya.
Lokakarya ini menghadirkan tiga materi utama yang disampaikan oleh para ahli di bidangnya. Materi pertama yaitu “Pengenalan Individu MBK” disampaikan oleh Umi Safiul Ummah, Ph.D. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada karakteristik MBK, tantangan yang mereka hadapi, serta pendekatan-pendekatan yang dapat membantu dalam proses pembelajaran.
Materi kedua, “Prinsip Universal Design for Learning (UDL)”, dipaparkan oleh Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A. Beliau menjelaskan prinsip-prinsip desain pembelajaran yang inklusif untuk menjangkau kebutuhan beragam mahasiswa. UDL menawarkan fleksibilitas dalam penyampaian materi, keterlibatan mahasiswa, dan evaluasi hasil belajar.


Sesi terakhir, “Teknologi Asistif untuk Bahan Ajar”, dibawakan oleh Lidya Amalia Rahmania, M.Kom. Sesi ini memperkenalkan berbagai perangkat dan aplikasi teknologi yang dapat membantu MBK dalam mengakses bahan ajar, termasuk perangkat lunak pembaca layar dan alat bantu komunikasi.
Diskusi yang mendalam mewarnai setiap sesi, terutama terkait hambatan yang sering dihadapi oleh dosen dan tenaga kependidikan. Beberapa tantangan yang disoroti adalah pelaksanaan praktikum di laboratorium yang ramah MBK serta keterlibatan mereka dalam kegiatan berkelompok untuk menyelesaikan tugas proyek.
Dampak Positif dan Harapan ke Depan
Lokakarya ini mendapatkan respons positif dari para peserta. Mereka mengapresiasi materi yang relevan dan aplikatif serta diskusi yang membuka wawasan tentang pentingnya pendekatan inklusif. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin untuk meningkatkan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan dalam melayani MBK,” ujar salah satu peserta.
Melalui lokakarya ini, PLPBK berharap dapat mendorong implementasi teknologi asistif dan prinsip UDL secara lebih luas di lingkungan Universitas Negeri Malang. Langkah ini diharapkan mampu mengatasi hambatan yang ada, sehingga tercipta lingkungan pembelajaran yang inklusif, efektif, dan berkeadilan bagi seluruh mahasiswa.
Dengan semangat inklusi yang terus digalakkan, Universitas Negeri Malang membuktikan komitmennya dalam memberikan akses pendidikan yang setara bagi seluruh civitas akademika, termasuk MBK. Harapannya, lokakarya ini menjadi awal dari upaya berkelanjutan untuk menciptakan kampus yang benar-benar ramah inklusi.

