Kunjungan PLPBK ke Dinas Pendidikan Kota Batu
Kunjungan PLPBK ke Dinas Pendidikan Kota Batu

Kunjungan PLPBK ke Dinas Pendidikan Kota Batu

Tim Pusat Layanan Penyandang Berkebutuhan Khusus (PLPBK) LPPP UM melakukan kunjungan ke Dinas Pendidikan Kota Batu hari Rabu, 6 Mei 2026. Tim PLPBK yang terdiri dari Dr. Imanuel Hitipeuw, M.A.. Sinta Yuni Susilawati, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dan Thomas Soseco, S.E., M.Sc, Ph.D diterima oleh Rr.Maria Inge S.H.,M.H. (Sekretaris Dinas), para pimpinan dan staf di lingkup Dinas Pendidikan Kota Batu dan Unit Layanan Disabilitas di Dinas Pendidikan Kota Batu.

Beberapa hal dibahas dalam pertemuan ini. Pertama, diskusi mengenai kondisi pelayanan disabilitas di lingkup Dinas Pendidikan Kota Batu. Pelayanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seringkali dihadapkan dengan kendala keterbatasan jumlah Guru Pendamping Khusus (GPK) yang ada di sekolah-sekolah sehingga membuat layanan tidak maksimal dan beban kerja guru tinggi. Selain itu, disoroti minimnya keterampilan dan latar belakang yang mumpuni yang dimiliki oleh GPK dalam mendampingi ABK.

Bagi Dinas Pendidikan, beberapa hal menjadi urgensi saat ini, seperti sekolah-sekolah sudah memiliki data awal siswa yang diduga berkebutuhan khusus namun belum mampu ditindaklanjuti secara nyata. Selain itu, proses pengembangan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di lingkup Dinas Pendidikan Kota Batu yang sesuai dengan Peraturan Walikota Batu, masih membutuhkan pendampingan dalam hal pendirian, penyusunan program kerja, dan perekrutan sumber daya manusia. Terkait dengan kompetensi modifikasi kurikulum yang dibutuhkan, maka GPK hendaknya adalah mereka yang memiliki kualifikasi pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa. Secara lebih luas, diperlukan peningkatan penghargaan bagi guru pendamping serta diperlukannya sertifikat kompetensi.

Hal kedua yang dibahas adalah berbagai potensi kerjasama antara kedua lembaga. Beberapa kegiatan bisa diarahkan untuk peningkatan keterampilan siswa berkebutuhan khusus seperti reading clinic dimana seringkali ditemui siswa berkebutuhan khsuus yang masih belum lancar dalam membaca karena keterbatasan mereka. Potensi kerjasama lain adalah peningkatan kesadaran atau awareess calon GPK, GPK, dan guru-guru lain secara umum. Dengan demikian dapat diperoleh kesadaran bahwa pelayanan terhadap ABK bukan hanya terletak pada GPK saja namun juga pada semua elemen di sekolah.

Pertemuan ini ditutup dengan harapan agar pelayanan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di lingkup Dinas Pendidikan Kota Batu dapat berjalan dengan lebih baik (TS)